China Berhenti Menggunakan The Big Four untuk Lebih Menghargai
Auditor Lokal, Benarkah Itu Alasannya ?
Putu Putri Risma W.
Awal tahun 2023 publik dikejutkan dengan
kabar dari negeri China yang mendesak seluruh BUMNnya untuk berhenti
menggunakan jasa akuntan public The Big Four yaitu Deloitte,
PricewaterhouseCoopers (PWC), Ernst& Young (EY) dan Kynveld Peat
Marwick Goerdeler (KPMG). Sebagai informasi, akuntan public The Big Four
semua berbasis di Amerika Serikat, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah ini
terkait “perang dingin” dengan Amerika Serikat atau murni hanya untuk lebih
menghargai akuntan public local. Lebih lanjut, China mengatakan bahwa anak
perusahaan BUMN China yang terdapat di luar China masih diperbolehkan untuk
menggunakan The Big Four. Hal ini membuat public lebih bertanya- tanya tentang
keputusan negeri tirai bambu itu.
Jika dilihat dari dulu, China memang
sangat bangga terhadap hasil negaranya sendiri. Ini terlihat dari masyarakat
China hanya diizinkan menggunakan Weibo dan WeChat sebagai media sosialnya
bukan Whatsapp atau Instagram yang lebih banyak digunakan di seluruh dunia. Hal
ini lagi- lagi dikarenakan Whatsapp dan Instagram merupakan buatan Amerika
Serikat. Jadi mungkin perkataan pemerintah China kalau hal ini murni untuk
menghargai akuntan public local benar adanya.
Namun, misalkan ini dikarenakan China
“takut” rahasia keuangan BUMNnya akan sampai di tangan Amerika Serikat harusnya
peristiwa itu tidak akan terjadi. Selain adanya peraturan audit yang menjamin
kerahasiaan antara klien dan audior, fenomena audit yang terjadi beberapa tahun
belakangan ini akan mendukung kerahasiaan tersebut. Fenomena tersebut dinamakan fenomena “klien
adalah raja”. Mungkin dalam dunia bisnis, fenomena klien adalah raja adalah hal
yang biasa. Namun, tidak dengan di dunia audit. Dalam dunia audit, jika dilihat
dalam peraturannya yang harus diutamakan adalah kejujuran, bukan klien.
Fenomena muncul setelah kegagalan Enron-
Andersen yang mengguncang dunia audit. Kegagalan itu membuat maraknya
komersialisme dalam audit dan banyaknya muncul kantor auditor yang menjadi
pesaing, sehingga para auditor mengganggap sah- sah saja untuk menggunakan
paham “klien adalah raja”. Selain itu,
fenomena “klien adalah raja “ juga didukung dengan tumbuhnya paham
merkantilisme di masyarakat. Paham merkantilisme sendiri berarti suatu paham
yang memandang kesejahteraan ditentukan dari berapa asset atau kekayaan yang
dimiliki. Paham ini mengakibatkan perusahaan cenderung lebih komersial. Jika
komersial terjadi di perusahaan pada umumnya maka tidak apa- apa, namun jika terjadi
pada perusahaan jasa audit maka itu tidak boleh terjadi.
Perusahaan jasa audit yang komersial akan
memandang jasa yang dilakukannya sebagai suatu bisnis yang lumrah saja untuk
menganggap bahwa klien yang diperiksa adalah raja. Jika seorang auditor
menganggap kliennya sebagai raja maka audit atau pemeriksaan yang dilakukan
menjadi bias. Di satu sisi auditor harus mengembangkan prinsip- prinsip audit
seperti integritas dan jujur, di sisi lain auditor mengganggap bahwa klien yang
membayarnya jadi sudah seharusnya dibantu dan ditaati.
Terkait dengan fenomena diatas,
tidak dapat dipungkiri inilah kenyataan yang terjadi di masyarakat. Namun jika
dikaitkan dengan berita mengenai China yang melarang BUMN untuk menggunakan The
Big Four maka China tidak perlu khawatir dengan fenomena ini. Jika berpikir
jernih, malah China diuntungkan oleh fenomena ini. Walau berbasis di Amerika
Serikat, The Big Four yang sudah terkenal sebagai kantor akuntan public
terpercaya selama puluhan tahun sangat menjunjung prinsip- prinsip audit maka
kerahasiaan begitu terjamin. Fenomena “klien adalah raja” pastilah menghampiri
semua kantor akuntan public termasuk The Big Four, namun kita tidak
dapat mengetahui sejauhmana fenomena tersebut merasuk ke dalam budaya sehari-
hari di sebuah kantor akuntan public.
Jika fenomena “klien adalah raja” di
dunia audit secara umum cenderung bersifat negative, namun jika dihubungkan
dengan China melarang BUMNnya menggunakan The Big Four maka ini menjadi hubungan
yang positif. Berhubung sifatnya positif, jika dilihat dari semua penjelasan
diatas maka jikalau China tetap melarang penggunaan The Big Four untuk BUMNnya
maka China tidaklah bijak, karena bagaimanapun The Big Four tetaplah menjadi
kantor akuntan public yang paling terkenal dan terpercaya di dunia.