Minggu, 04 Juni 2023

 

China Berhenti Menggunakan  The Big Four untuk Lebih Menghargai Auditor Lokal, Benarkah Itu Alasannya ?

Putu Putri Risma W.

 

Awal tahun 2023 publik dikejutkan dengan kabar dari negeri China yang mendesak seluruh BUMNnya untuk berhenti menggunakan jasa akuntan public The Big Four yaitu Deloitte, PricewaterhouseCoopers (PWC), Ernst& Young (EY) dan Kynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG). Sebagai informasi, akuntan public The Big Four semua berbasis di Amerika Serikat, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah ini terkait “perang dingin” dengan Amerika Serikat atau murni hanya untuk lebih menghargai akuntan public local. Lebih lanjut, China mengatakan bahwa anak perusahaan BUMN China yang terdapat di luar China masih diperbolehkan untuk menggunakan The Big Four. Hal ini membuat public lebih bertanya- tanya tentang keputusan negeri tirai bambu itu.

Jika dilihat dari dulu, China memang sangat bangga terhadap hasil negaranya sendiri. Ini terlihat dari masyarakat China hanya diizinkan menggunakan Weibo dan WeChat sebagai media sosialnya bukan Whatsapp atau Instagram yang lebih banyak digunakan di seluruh dunia. Hal ini lagi- lagi dikarenakan Whatsapp dan Instagram merupakan buatan Amerika Serikat. Jadi mungkin perkataan pemerintah China kalau hal ini murni untuk menghargai akuntan public local benar adanya.

Namun, misalkan ini dikarenakan China “takut” rahasia keuangan BUMNnya akan sampai di tangan Amerika Serikat harusnya peristiwa itu tidak akan terjadi. Selain adanya peraturan audit yang menjamin kerahasiaan antara klien dan audior, fenomena audit yang terjadi beberapa tahun belakangan ini akan mendukung kerahasiaan tersebut.  Fenomena tersebut dinamakan fenomena “klien adalah raja”. Mungkin dalam dunia bisnis, fenomena klien adalah raja adalah hal yang biasa. Namun, tidak dengan di dunia audit. Dalam dunia audit, jika dilihat dalam peraturannya yang harus diutamakan adalah kejujuran, bukan klien.

Fenomena muncul setelah kegagalan Enron- Andersen yang mengguncang dunia audit. Kegagalan itu membuat maraknya komersialisme dalam audit dan banyaknya muncul kantor auditor yang menjadi pesaing, sehingga para auditor mengganggap sah- sah saja untuk menggunakan paham “klien adalah raja”.  Selain itu, fenomena “klien adalah raja “ juga didukung dengan tumbuhnya paham merkantilisme di masyarakat. Paham merkantilisme sendiri berarti suatu paham yang memandang kesejahteraan ditentukan dari berapa asset atau kekayaan yang dimiliki. Paham ini mengakibatkan perusahaan cenderung lebih komersial. Jika komersial terjadi di perusahaan pada umumnya maka tidak apa- apa, namun jika terjadi pada perusahaan jasa audit maka itu tidak boleh terjadi.

Perusahaan jasa audit yang komersial akan memandang jasa yang dilakukannya sebagai suatu bisnis yang lumrah saja untuk menganggap bahwa klien yang diperiksa adalah raja. Jika seorang auditor menganggap kliennya sebagai raja maka audit atau pemeriksaan yang dilakukan menjadi bias. Di satu sisi auditor harus mengembangkan prinsip- prinsip audit seperti integritas dan jujur, di sisi lain auditor mengganggap bahwa klien yang membayarnya jadi sudah seharusnya dibantu dan ditaati.

            Terkait dengan fenomena diatas, tidak dapat dipungkiri inilah kenyataan yang terjadi di masyarakat. Namun jika dikaitkan dengan berita mengenai China yang melarang BUMN untuk menggunakan The Big Four maka China tidak perlu khawatir dengan fenomena ini. Jika berpikir jernih, malah China diuntungkan oleh fenomena ini. Walau berbasis di Amerika Serikat, The Big Four yang sudah terkenal sebagai kantor akuntan public terpercaya selama puluhan tahun sangat menjunjung prinsip- prinsip audit maka kerahasiaan begitu terjamin. Fenomena “klien adalah raja” pastilah menghampiri semua kantor akuntan public termasuk The Big Four, namun kita tidak dapat mengetahui sejauhmana fenomena tersebut merasuk ke dalam budaya sehari- hari di sebuah kantor akuntan public.

            Jika fenomena “klien adalah raja” di dunia audit secara umum cenderung bersifat negative, namun jika dihubungkan dengan China melarang BUMNnya menggunakan The Big Four maka ini menjadi hubungan yang positif. Berhubung sifatnya positif, jika dilihat dari semua penjelasan diatas maka jikalau China tetap melarang penggunaan The Big Four untuk BUMNnya maka China tidaklah bijak, karena bagaimanapun The Big Four tetaplah menjadi kantor akuntan public yang paling terkenal dan terpercaya di dunia.