kami dipertemukan oleh waktu, waktu orang tua kami bersahabat dan waktu kami dilahirkan. aku berdiri sendiri disini di tengah- tengah hiruk pikuk keramaian pesta ulang tahunku yang ke 17th. semuanya nampak spesial, dekorasi, baju, aksesoris, dan tak ketinggalan hadiah yang sepertinya tak sabar untuk aku buka. semuanya hadir disini, keluarga besarku, sahabatku, teman- temanku, relasi perusahaan ayahku dan tak ketinggalan keluarga calon tunanganku.
calon tunanganku tak lain adalah reno, sahabatku dari kecil. perjodohan yang konyol menurutku untuk zaman yang semodern ini. tapi aku tak punya pilihan lain. ini bukan masalah harta atau warisan tapi ini masalah wasiat dari seseorang buatku . kalau aku menolak, maka rasa penyesalan yang ku rasa akan terus menghantuiku. seketika ada seseorang yang menepuk pundakku..
"kok disini?" tanyanya lembut
"lagi nenangin diri buat pertunangan kita" jawabku
"gak usah dipikirn" katanya santai
"gmana gak dipikirin?" tanyaku ketus
"aku tau kamu ngerasa bersalah, tapi kamu gak boleh larut dlm kesedihan kamu sendiri" jawabnya
"rasya meninggal karena aku ren" ucapku
"bukan kamu aja, aku juga kok" ucapnya
"tapi kalo aku relain kamu waktu itu, pasti gak bakal kejadian" ucapnya lembut
"penyesalan di akhir tiada guna rena" lanjutnya
aku pun sesenggukkan karena kalimatnya itu..
seperti biasanya ia pun lalu memelukku tanpa berkata apapun, mungkin ia juga bingung mau bilang apa makanya ia hanya bisa memberikan pelukkan hangat buatku.
"wooiii, yang mau tunangan kok malah diluar ? cepetan masuk ! acaranya udah mau dimulai" teriak alex
"hapus air matamu, kamu harus menatap masa depan dan tolong jangan menoleh masa lalu ataupun kembali mengingat penyesalanmu itu !" kata reno tegas
aku tak menjawab, aku hanya memberikan anggukkan singkat saja.
hidup memang pilihan seperti kata reno, pilihan juga namanya ketika aku memberikan pisau yang digunakan rasya untuk membunuh dirinya, pilihan juga namanya ketika reno mengakui perselingkuhannya dengan rasya lalu memutuskan rasya demi memilihku, pilihan juga namanya ketika mama duduk di sebelah tante silvi yang ternyata akan menjadi ibu mertuaku kelak, pilihan juga namanya ketika papa mengantar mama melahirkan di sebuah rumah sakit yang lalu mempertemukan mama dengan sahabatnya kecilnya yang lalu juga membuat rencana perjodohan ini dan pilihan juga namanya ketika ayah reno lebih memilih menjodohkan reno denganku aloh- alih dengan rasya yang juga anak rekan bisnisnya.
hehehe, gimana ? ini tu cuma cerita pendek yang bisa menyadari kita bahwa hidup ini pilihan bukan takdir. kita yang memilih jalan yang ingin kita lewati namun pada akhirnya memang Tuhan yang akan menentukan. jadi jangan menganggap hidup ini takdir, makanya kita bisa berleha- leha seharunsya kita selama hidup harus bisa membuat pilihan sebanyak mungkin agar Tuhan bisa memilihkan mana pilihan terbaik untuk kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar